Berita Migas‎ > ‎

Berita Migas Page2

Page ( 1  3  4  5  6  7  8  9 ) Lowongan Kerja Migas

SKK Migas Inginkan Pengelola Blok Mahakam Tingkatkan Cadangan Gas

Albi Wahyudi
Eksplorasi migas
Eksplorasi migas

Butuh investasi Rp 80 triliun.

JAKARTA, Jaringnews.com – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menginginkan agar pengelola Blok Mahakam yang akan datang mampu melakukan eksplorasi di laut dalam sehingga dapat menambah cadangan gas di blok Mahakam yang terus berkurang.

“Dulu saat cadangan di Blok Mahakam masih banyak dan produksi masih tinggi di tahun 1997, kenapa diberikan perpanjangan kontrak ke Total Indonesie tahun 1997? Sekarang cadangannya tinggal sedikit, kenapa malah ribut?" kata Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini disela-sela acara pelantikan pejabat setingkat Kepala Dinas dan Kepala Subdinas di gedung City Plaza, Jakarta, Selasa (19/2).

Menurut Rudi,  yang dibutuhkan sekarang ini bukan memperebutkan blok tersebut. Tapi siapa yang berani investasi untuk eksplorasi di laut yang lebih dalam lagi agar cadangan minyak dan gas di blok Mahakam dapat meningkat.

Menurut Rudi, cadangan gas terbukti di blok Mahakam Kalimantan Timur ketika kontrak berakhir 2017 diperkirakan tinggal 2 triliun kaki kubik (trillion cubic feet / TCF) dan dibutuhkan investasi Rp 80 triliun untuk dapat memproduksi gas dari blok tersebut selama masa operasi 20 tahun.

“Jadi hanya untuk mengangkat gas yang sudah terbukti tersebut saja dibutuhkan investasi sebesar Rp 80 triliun dimana dari hasil investasi tersebut dengan sistem bagi hasil 70% untuk Pemerintah dan 30% untuk kontraktor.

Sehingga lanjut Rudi, kontraktor yang akan mengelola blok Mahakam akan mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp 36 triliun. Sementara Pemerintah Republik Indonesia akan mendapatkan keuntungan bersih yang jauh lebih besar sekitar Rp84 triliun tanpa harus keluarkan modal.

"Dalam hal Penerimaan Negara, yang kami inginkan adalah Penerimaan Negara yang optimal ditambah dengan penambahan cadangan baru di wilayah tersebut,” ujar Rudi.

Jika dikelola oleh BUMN maka sesuai dengan UU Migas No. 22 Tahun 2001 dan peraturan perundangan turunannya maka bagi hasil di blok Mahakam akan menjadi 60% untuk Negara dan 40% untuk BUMN.

Diluar biaya investasi untuk mengangkat cadangan gas terbukti di Blok Mahakam, dibutuhkan juga investasi yang jumlahnya tidak sedikit untuk melakukan eksplorasi agar cadangan terbukti di blok Mahakam dapat ditingkatkan lebih dari 2 TCF.

“Dana yang dibutuhkan untuk eksplorasi tambahan di Blok Mahakam bisa ratusan trilliun dan itu belum tentu berhasil padahal sesuai dengan keinginan banyak pihak agar cadangan gas Indonesia juga harus meningkat. Jika tidak ada investasi tambahan di blok Mahakam untuk eksplorasi maka masa depan cadangan gas Indonesia akan terancam” jelas Rudi.

Karena itu saat ini masih dibutuhkan investor untuk dapat membantu Pemerintah untuk melakukan eksplorasi dalam rangka meningkatkan cadangan gas terbukti di blok Mahakam tanpa perlu Pemerintah menanggung resiko kerugian jika eksplorasi tersebut gagal.

“Negara jangan sampai menanggung resiko akibat kegagalan eksplorasi. Apakah BUMN dan BUMD mau menanggung kerugian eksplorasi? Kasihan Negeri ini kalau harus mengorbankan hilangnya potensi tambahan cadangan minyak dan gas akibat tidak ada investasi,” kata Rudi.

(Alb / Ara)

Pertamina EP Terapkan EOR di Lapangan Tanjung

21 Pebruari 2013

Jakarta – Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memberikan apresiasi terhadap langkah PT Pertamina EP yang mulai menerapkan teknologi pengurasan minyak tingkat lanjut (enhanced oil recovery / EOR) di wilayah kerja milik mereka sendiri, tepatnya di Lapangan Tanjung, Kalimantan Selatan.

“Upaya Pertamina untuk menjadi tuan rumah di negeri sendiri didukung oleh SKK Migas dengan penerapan teknologi EOR di wilayah kerja mereka sendiri sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan produksi minyak nasional,” ujar Sekretaris SKk Migas Gde Pradnyana di Jakarta, Rabu (20/02)

Saat ini Pertamina telah memegang mayoritas wilayah kerja minyak dan gas di Indonesia, sekitar 58% wilayah kerja minyak yang gas di Indonesia telah dikuasai oleh PT Pertamina.

Demikian juga dari sisi cadangan minyak, dari total sebanyak 3,6 miliar barel minyak cadangan minyak Indonesia sebanyak hampir 50% merupakan cadangan minyak dan gas yang ada di wilayah kerja Pertamina.

“Saat kunjungan kerja ke Lapangan Tanjung, kita melihat proyek injeksi kimia telah dilakukan untuk proyek EOR di Lapangan Tanjung sejak tanggal 12 Februari 2013. Laju aliran produksi minyak sebelumnya sebesar 300 barel per hari dan saat ini telah mencapai 700 barel per hari,” ujar Sekretaris SKK Migas Gde Pradnyana di Jakarta, Rabu (20/02)

Diharapkan dari hasil injeksi kimia Lapangan Tanjung akan dihasilkan produksi minyak sebesar 1.000 barel yang akan dicapai pada tanggal 21 Februari 2013, “semoga target tersebut dapat tercapai,” katanya.

Injeksi kimia di lokasi pertama di Lapangan Tanjung saat ini telah menggunakan 1 sumur injeksi dan 2 sumur monitoring, secara keseluruhan program injeksi kimia secara penuh akan berjumlah 36 lokasi (36 pattern) dengan menggunakan beberapa sumur eksisting sebagai sumur injeksi dan sumur monitoring.

“Direncanakn utk full scale akan memiliki 51 sumur monitoring diantaranya 26 mnggunakan sumur existing yg terlebih dahulu di Workover untuk menjadi sumur monitoring dan sumur injeksi yang dibuat berjarak saling berdekatan antara sumur monitoring dan smur injeksi,” jelasnya.
SKK Migas mewajibkan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKS) menerapkan teknologi pengurasan minyak tingkat lanjut dari lapangan yang sudah mengalami penurunan produksi alamiah.
Medco saat ini telah melakukan pilot project EOR di Lapangan Kaji Semoga, Rimau Asset, Sumatera Selatan sementara Chevron telah lebih dulu berhasil menerapkan teknologi EOR dimana saat ini produksi Chevron lebih besar menggunakan teknologi EOR ketimbang produksi konvensional. (DWI)

Page ( 1  3  4  5  6  7  8  9 ) Lowongan Kerja Migas


Comments