Berita Migas‎ > ‎

Berita Migas Page 8

Page ( 1  2  3  4  5  6  7  9 ) Lowongan Kerja Migas

Kontraktor Migas Wajib Simpan DHE di Bank Devisa Nasional

Senin, 11 February 2013 | 17:37 WIB
ANTARA/Yudhi Mahatma/fz

Metrotvnews.com, Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mewajibkan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) di bank devisa nasional paling lambat pada 30 Juni 2013.

Deputi Pengendalian Keuangan SKK Migas Akhmad Syahroza mengatakan kebijakan ini merupakan implementasi dari Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 14/17/2012 tentang aturan mengenai kegiatan usaha bank berupa penitipan dengan pengelolaan (trust) dan PBI Nomor 14/25/2012.

"Penerimaan DHE yang tidak melalui bank devisa nasional karena telah diperjanjikan sebelumnya dengan trustee di luar negeri diberikan batas waktu hingga 30 Juni 2013," ujar Akhmad Syahroza di Kantor SKK Migas, Jakarta, Senin (12/2).

Ia menambahkan sebelumnya, bank sentral sudah mengeluarkan PBI Nomor 13 tahun 2011 yang mewajibkan transaksi seluruh ekspor perusahaan yang berada di Indonesia harus melalui bank devisa nasional untuk menjaga nilai tukar rupiah. Hal ini juga berlaku bagi transaksi ekspor migas.

"Nanti seluruh ekspor migas harus melalui bank devisa dalam negeri. Tapi ini enggak gampang. Masalahnya transaksi penjualan kita kan dolar. Kalau dolar banyak berarti dia butuh rupiah. Rupiah jual mahal sehingga rupiah kita stabil. Ini enggak gampang," papar Akhmad.

Aturan ini kemudian direvisi pada PBI nomor 14 dengan memberi batas waktu mulai 30 Juni 2013 KKKS wajib menyimpan dananya di bank devisa negara. Dijelaskan Ahmad, bagi perusahaan yang melanggar dikenai sanksi tidak boleh mengekspor produksi migasnya. "Di PBI 14, siapa yang ekspor, dia yang harus masuk ke bank devisa," kata dia.

Diakui Akhmad, beberapa KKKS sudah mulai menyimpan DHEnya di bank devisa di Indonesia, antara lain Medco, Petrochina, Conocophillips, Santos, Cinoc dan Vico.

Kendati demikian, beberapa kontraktor menunjukkan resistensi dan mengancam akan menurunkan investasinya di Indonesia, seperti Total, Chevron dan BP. "Kalau Chevron enggak mau ya sanksinya enggak boleh ekspor. Itu BI yang lakukan," tegas Akhmad. (Ayomi Amindoni/Ray)

SKK Migas Siapkan Aturan Penggunaan Teknologi Lanjut

Senin, 11 February 2013 | 14:14 WIB
ANTARA/Yudhi Mahatma/bb

Metrotvnews.com, Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) akan membuat pedoman tata kerja yang mengatur penggunaan teknologi tingkat lanjut (enhanced oil recovery/EOR) di lapangan-lapangan yang tidak dikembangkan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).

Mekanisme kebijakan itu dengan mekanisme no cure no pay, yakni pihak ketiga diberikan izin untuk melakukan optimasi di lapangan yang tidak dikembangkan.

"Diharapkan dengan adanya mekanisme no cure no pay, hasil penerapan teknologi tingkat lanjut dalam produksi minyak dan gas akan dinikmati dalam waktu tidak lama seperti dahulu," ujar Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini seperti dikuti dari siaran pers yang diterima Media Indonesia, Jakarta, Senin (11/2).

Ia menegaskan kebijakan tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan produksi minyak dan gas nasional. KKKS bisa mulai menerapkan tidak hanya secondary recovery seperti yang dilakukan sekarang, melainkan menuju teknologi tertiery recovery dari lapangan yang sudah mengalami laju penurunan produksi dan yang masih baru.

KKKS yang sudah melakukan enhanced oil recovery antara lain Medco dengan menerapkannya di Lapangan Kaji Semoga, Rimau Asset, Sumatra Selatan, dan Chevron yang sebagian produksinya menggunakan teknologi tersebut ketimbang produksi primer.

"Medco butuh waktu 12 tahun dan Chevron butuh waktu 13 tahun untuk bisa mendapatkan minyak dengan teknologi EOR. Ke depan kami mengharapkan dengan mekanisme yang baru tersebut, kita dapat mulai menikmati produksi minyak dari hasil EOR dalam jangka waktu hanya sekitar empat tahun," tegasnya.

SKK Migas juga akan memberikan sanksi tegas kepada KKKS yang tidak mengoptimalkan pengembangan di lapangan yang dikelola. Ini agar tidak ada lagi lapangan-lapangan yang dibiarkan terbengkalai tanpa ada kegiatan eksplorasi maupun produksi.

Upaya itu paralel dengan upaya peningkatan produksi migas dari hasi kegiatan pengeboran sumur pengembangan, work over, dan well service pada 2013. Deputi Pengendalian Operasi SKK Migas Muliawan mengatakan pada tahun ini akan dilakukan pengeboran 258 sumur eksplorasi, pengeboran sumur pengembangan sebanyak 1.178 sumur, dan work over sumur produksi sebanyak 1.094 sumur.

"Rencana kegiatan pengeboran sumur pengembangan, work over, dan well service pada tahun ini akan memberikan kontribusi sebesar 14 persen dari rencana produksi minyak nasional tahun 2013 dan memberikan kontribusi terhadap 11 persen dari rencana produksi gas nasional," ujar Muliaman. (Ayomi Amindoni/Was)

Page ( 1  2  3  4  5  6  7  9 ) Lowongan Kerja Migas
Comments