Berita Migas‎ > ‎

Berita Migas Page 7

Page ( 1  2  3  4  5  6  8  9 ) Lowongan Kerja Migas

Data dan Fakta Seputar Blok Mahakam

12 Pebruari 2013

“Menanggapi beberapa berita yang terus dihembuskan oleh beberapa pengamat terkait dengan perpanjangan Blok Mahakam maka dirasakan perlu meluruskan data dan fakta yang ada”, demikian disampaikan oleh Gde Pradnyana, Sekretaris Satuan Kerja Khusus Migas (SKKMIGAS). Sebagaimana diketahui, kontrak bagi hasil blok Mahakam ditandatangani tahun 1967, kemudian diperpanjang pada tahun 1997 untuk jangka waktu 20 tahun sampai tahun 2017. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan pada tahun 1967 menemukan cadangan minyak dan gas bumi di Blok Mahakam tahun 1972 dalam jumlah yang cukup besar. Cadangan (gabungan cadangan terbukti dan cadangan potensial atau dikenal dengan istilah 2P) awal yang ditemukan saat itu sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi sebesar 21,2 triliun kaki kubik (TCF). Dari penemuan itu maka blok tersebut mulai diproduksikan dari lapangan Bekapai pada tahun 1974

Produksi dan pengurasan secara besar-besaran cadangan tersebut di masa lalu membuat Indonesia menjadi eksportir LNG terbesar di dunia pada tahun 1980-2000. Kini, setelah pengurasan selama 40 tahun, maka sisa cadangan 2P minyak saat ini sebesar 185 juta barel dan cadangan 2P gas sebesar 5,7 TCF. Pada akhir maka kontrak tahun 2017 diperkirakan masih menyisakan cadangan 2P minyak sebesar 131 juta barel dan cadangan 2P gas sebanyak 3,8 TCF pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut diperkirakan sisa cadangan terbukti (P1) gas kurang dari 2 TCF. “Jadi informasi yang disampaikan seolah-olah sisa cadangan gas pada tahun2017 sebesar 10,1 TCF dan sisa cadangan minyak sebesar 192 juta barel jelas tidak mempunyai dasar”, jelas Gde Pradnyana.

Sebagaimana diketahui, Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang bekerja disana saat ini di Blok Mahakam, yaitu TOTAL yang berpartner dengan INPEX 50%-50%, telah menginvestasikan setidaknya US$ 27 miliar atau sekitar Rp 250 triliun sejak masa eksplorasi dan pengembangannya telah memberikan penerimaan Negara sebesar US$ 83 miliar atau sekitar Rp.750 triliun.

Masalah perpanjangan blok Mahakam sangat erat kaitannya dengan upaya untuk menjamin dan memaksimalkan penerimaan Negara. Seandainya pemerintah bermaksud memperpanjang kontrak blok Mahakam, maka pemerintah pasti akan meminta kenaikan bagi hasil yang lebih banyak lagi dari kontrak sebelumnya. “Sisa cadangan yang ada plus fasilitas produksi yang sudah sepenuh diberikan cost recovery harus dianggap sebagai equity pemerintah sehingga split bagi hasil yang semula 70:30 untuk gas dan 85:15 untuk minyak harus dinaikkan secara signifikan untuk mengkompensasi equity pemerintah tersebut”, imbuh Gde. Sebagaimana diketahui, saat ini Pemerintah masih menimbang-nimbang siapa yang akan ditunjuk sebagai operator blok tersebut, baik opsi memperpanjang kontrak dengan perubahan split dan perubahan komposisi participating interest, maupun opsi menyerahkan operatorship ke perusahaan Nasional, yaitu Pertamina. Gde menegaskan bahwa: “Menteri Jero Wacik adalah orang yang sangat nasionalis, beliau pasti memperhitungkan agar opsi yang dipilih dapat memberikan manfaat yang terbesar bagi kepentingan bangsa dan Negara”.

Kontraktor KKS Harus Terapkan Teknologi Tersier Recovery

Selasa, 12 Februari 2013 10:24

Rudi Rubiandini (GATRAnews/Adi Wijaya)

Jakarta, GATRAnews - Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Rudi Rubiandini menegaskan, guna meningkatkan produksi minyak dan gas nasional, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKS) mulai menerapkan teknologi tersier recovery dari lapangan yang sudah mengalami laju penurunan produksi, maupun lapangan yang masih baru.

"Tidak hanya secondary recovery, tapi mulai  menuju teknologi tersier recovery," kata Rudi Rubiandini melalui surat elektronik SKK Migas, yang diterima GATRAnews di Jakarta, Senin (11/2).

Pada Rapat Koordinasi Operasi Survei, Pengeboran, dan Work Over 2013 di Bandung, Jawa Barat itu, Rudi menjelaskan, kontraktor KKS bisa mencontoh Medco yang sudah menerapkan Enhanced Oil Recovery di Lapangan Kaji Semoga, Rimau Asset, Sumatera Selatan, maupun mengikuti jejak Chevron, di mana produksinya lebih besar menggunakan teknologi EOR ketimbang produksi primer.

Bahkan dalam jangka waktu dekat, imbuhnya, akan dibuat Pedoman Tata Kerja yang mengatur menyangkut penggunaan teknologi tingkat lanjut di lapangan yang tidak dikembangkan oleh Kontraktor KKS melalui mekanisme no cure no pay, yakni pihak ketiga diberika izin untuk melakukan optimasi di lapangan yang tidak dikembangkan.

"Diharapkan, dengan adanya mekanisme no cure no pay, maka hasil dari penerapan teknologi tingkat lanjut dalam produksi minyak dan gas, akan dinikmati dalam waktu tidak lama seperti dahulu," ujarnya.

Menurutnya, Medco membutuhkan waktu 12 tahun, sedangkan Chevron butuh waktu 13 tahun untuk bisa mendapatkan minyak dengan teknologi EOR. Kedepan, kita harapkan dengan mekanisme yang baru tersebut, kita dapat mulai menikmati produksi minyak dari hasil EOR dalam jangka waktu hanya sekitar 4 tahun.

Rudi menegaskan, SKK Migas juga akan memberikan sanksi tegas kepada kontraktor KKS yang tidak mengoptimalkan pengembangan di lapangan yang dikelola agar tidak ada lagi lapangan-lapangan yang dibiarkan terbengkalai tanpa ada kegiatan eksplorasi maupun produksi. (IS)

Page ( 1  2  3  4  5  6  8  9 ) Lowongan Kerja Migas
Comments