Berita Migas

http://www.royalbross.com/system/app/pages/subPages?path=/berita-migas

Page ( 2  3  4  5  6  7  8  9 ) Lowongan Kerja Migas

Eksplorasi Demi Anak Cucu

13 Agustus 2013

Generasi saat ini bisa menikmati migas berkat kegiatan eksplorasi generasi sebelumnya. Semua pihak patut mendukung eksplorasi supaya migas tetap tersedia bagi anak cucu di masa datang.

Kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (migas) menyumbang sekitar 30 persen dari penerimaan negara. Hasil migas yang dinikmati hari ini sejatinya adalah buah jerih payah pencarian atau eksplorasi yang dilakukan belasan atau bahkan puluhan tahun lalu.

Kegiatan eksplorasi adalah tahap awal dari seluruh rangkaian kegiatan hulu migas. Secara umum, aktivitas eksplorasi meliputi studi geologi, studi geofisika, survei seismik, dan pengeboran eksplorasi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menemukan cadangan baru, baik di wilayah kerja yang sudah berproduksi maupun di wilayah kerja yang belum diproduksikan.

Kegiatan eksplorasi memerlukan biaya yang sangat besar untuk memperoleh informasi geologi, seismik, pengeboran sumur, dan pengolahan data. Di sisi lain, kegiatan ini mengandung risiko dan ketidakpastian yang sangat tinggi.

Hasil kegiatan eksplorasi bervariasi. Investor dapat gagal menemukan cadangan migas, atau menemukan cadangan namun tidak ekonomis untuk dikembangkan. Jika berhasil menemukan cadangan yang cukup ekonomis untuk dikembangkan, kegiatan akan dilanjutkan ke fase produksi.

Data dari Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menunjukkan bahwa dari 750 sumur eksplorasi yang dibor pada periode 2002 – 2012, jumlah sumur yang tidak menghasilkan (dry hole) mencapai 328 sumur atau mendekati 50%. Data lain menunjukkan, dalam kurun waktu 2009 – 2013, sebanyak 12 Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) asing mengalami kerugian hingga US$1,9 miliar atau Rp 19 triliun akibat kegagalan eksplorasi di 16 wilayah kerja yang berlokasi di laut dalam.

Sistem Kontrak Bagi Hasil atau Production Sharing Contract (PSC) yang diadopsi oleh industri hulu migas Indonesia memang melindungi negara dari paparan risiko eksplorasi yang tinggi tersebut. Dalam sistem PSC, hanya kegiatan eksplorasi yang berhasil menemukan cadangan yang ekonomis untuk dikembangkan sajalah yang biaya investasi eksplorasinya akan dikembalikan melalui mekanisme cost recovery. Untuk kasus 16 Kontraktor KKS asing di atas, semua kerugian menjadi tanggungan masing-masing kontraktor.

Meskipun negara terbebas dari risiko eksplorasi yang tinggi, sukses eksplorasi sebenarnya sangat penting untuk menjamin kelangsungan industri hulu migas. Eksplorasi yang gagal pun sesungguhnya bukanlah merupakan kerugian murni, karena kegiatan ini menghasilkan data sebagai panduan kegiatan eksplorasi berikutnya. Sedangkan kegiatan eksplorasi yang berhasil tentu saja menjadi syarat ketersediaan produksi migas di masa mendatang.

Sayangnya, rangkaian kegiatan eksplorasi tidak selalu mendapat dukungan semua pemangku kepentingan. Data dari SKK Migas menunjukkan kegiatan eksplorasi menemui berbagai kendala di lapangan, dan yang paling utama justru berkaitan dengan kendala-kendala eksternal (47 persen), yaitu masalah sosial, perizinan, dan tumpang tindih lahan. Kendala lainnya berkaitan dengan masalah internal Kontraktor KKS (24 %), misalnya kendala finansial, dan kurangnya ketersediaan alat dan jasa penunjang operasi (21 %). Kontraktor eksplorasi juga sering dibebani berbagai permintaan dari masyarakat di sekitar wilayah operasi. Padahal, selama fase ini, para kontraktor praktis belum menghasilkan penerimaan apapun.

Kegiatan eksplorasi sudah seharusnya mendapat dukungan semua pihak. Generasi saat ini bisa menikmati hasil migas berkat kegiatan eksplorasi yang dilakukan dan didukung oleh generasi sebelumnya. Sudah sepatutnya generasi sekarang bekerja keras melakukan dan mendukung eksplorasi supaya migas tetap tersedia bagi anak cucu di masa datang. Eksplorasi memang tidak selalu menemukan cadangan migas, tetapi migas pasti tidak akan ditemukan tanpa adanya eksplorasi. (Sumber : www.skkmigas.go.id)


Mengenal Kontrak Hulu Migas Indonesia

13 Agustus 2013

Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (Migas) Indonesia dijalankan berdasarkan Kontrak Bagi Hasil atau Production Sharing Contract (PSC). Skema ini mengoptimalkan penerimaan negara sekaligus melindungi dari paparan risiko tinggi terutama pada fase eksplorasi.

Bisnis hulu migas memiliki empat karakter utama. Pertama, pendapatan baru diterima bertahun-tahun setelah pengeluaran direalisasikan. Kedua, bisnis ini memiliki risiko dan ketidakpastian tinggi serta melibatkan teknologi canggih. Ketiga, usaha hulu migas memerlukan investasi yang sangat besar. Namun, di balik semua risiko tersebut, industri ini memiliki karakter ke empat, yaitu menjanjikan keuntungan yang sangat besar. Idealnya, kontrak yang digunakan adalah yang mampu menyiasati tantangan dan meraih peluang dari empat karakter tersebut.

Sebelum PSC, Indonesia sempat menganut dua rezim kontrak, yaitu konsesi dan kontrak karya. Rezim konsesi dianut Indonesia pada era kolonial Belanda sampai awal kemerdekaan. Karakteristiknya, semua hasil produksi dalam wilayah konsesi dimiliki oleh perusahaan. Negara dalam sistem ini hanya menerima royalti yang secara umum berupa persentase dari pendapatan bruto dan pajak. Keterlibatan negara sangat terbatas.

Rezim Kontrak Karya berlaku saat Indonesia menerapkan Undang-undang No. 40 tahun 1960 tentang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi. Regulasi ini mengatur bahwa sumber daya migas adalah milik negara. Status perusahaan diturunkan dari pemegang konsesi menjadi kontraktor negara. Pada sistem ini, negara dan perusahaan berbagi hasil penjualan migas. Meskipun perusahaan tidak lagi menjadi pemegang konsesi, kendali manajemen masih berada di tangan mereka. Peran pemerintah terbatas pada kapasitas pengawasan.

Skema PSC pertama kali berlaku tahun 1966 saat PERMINA menandatangani kontrak bagi hasil dengan Independence Indonesian American Oil Company (IIAPCO). Kontrak ini tercatat sebagai PSC pertama dalam sejarah industri migas dunia. Penerapan PSC di Indonesia dilatarbelakangi oleh keinginan supaya negara berperan lebih besar dengan mempunyai kewenangan manajemen kegiatan usaha hulu migas.

PSC dapat diibaratkan dengan model usaha petani penggarap yang banyak dipraktikkan di nusantara. Pemerintah adalah pemilik “sawah” yang mengamanatkan pengelolaan lahan kepada “petani penggarap”. Dalam bisnis hulu migas, “petani penggarap” ini adalah perusahaan migas baik nasional maupun asing. Penggarap ini menyediakan semua modal dan alat yang dibutuhkan.

Semua pengeluaran ini tentunya harus disetujui pemilik sawah, karena modal tersebut akan dikembalikan kelak saat panen. Penggantian ini, yang dalam dunia migas dikenal dengan istilah cost recovery, hanya dilakukan jika “panen” tersebut berhasil atau ada temuan cadangan yang komersial untuk dikembangkan.

Jika tidak, semua biaya ditanggung sepenuhnya oleh penggarap (kontraktor migas). Saat “panen” tiba, produksi akan dikurangkan terlebih dahulu dengan modal yang harus dikembalikan, baru kemudian dibagi antara pemilik sawah dengan penggarap sesuai dengan kesepakatan dalam kontrak.

Demikianlah PSC bekerja. Dengan pola ini, negara bisa memanfaatkan anugrah sumber daya migas karena modal dan teknologi disediakan oleh investor. Di sisi lain, negara tidak terpapar risiko kegagalan eksplorasi karena biaya modal dalam kondisi tersebut tidak diganti dalam skema cost recovery. Pemerintah sebagai perwakilan negara juga memiliki kontrol baik atas manajemen operasional maupun kepemilikan sumber daya migas.

Manajemen operasional hulu migas dipegang oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas atau SKK Migas (dulu BPMIGAS) sebagai perwakilan pemerintah dalam PSC. Dengan adanya institusi ini, kendali atas bisnis hulu migas sepenuhnya di tangan negara.

Di sisi lain, PSC juga mengatur bahwa sumber daya migas tetap milik negara sampai titik serah. Berbeda dengan Kontrak Karya yang membagi hasil penjualan migas, dalam sistem PSC, yang dibagi adalah produksi. Selama sumber daya migas masih berada dalam wilayah kerja pertambangan atau belum lepas dari titik penjualan yaitu titik penyerahan barang, maka sumber daya alam migas tersebut masih menjadi milik pemerintah Indonesia.

PSC sampai saat ini masih dipercaya sebagai model paling ideal untuk Indonesia. Sistem ini menjamin penguasaan negara atas sumber daya migas sekaligus melindungi negara dari tingkat risiko dan ketidakpastian yang tinggi dalam bisnis hulu migas

Indonesia Gandeng Irak Bangun Kilang

Senin, 01 Juli 2013, 14: 10: 24 WIB, ( Hits : 58 )

Jakarta, Untuk mewujudkan keinginan memiliki kilang dengan dana APBN, Pemerintah Indonesia menggandeng Irak guna menjamin pasokan minyak dan teknologinya.

Dirjen Migas Kementerian ESDM A. Edy Hermantoro mengemukakan, lokasi untuk pembangunan kilang telah dirapatkan, namun belum dapat dipublikasikan.  Pembangunan kilang diperkirakan memakan biaya Rp 90 triliun.

Sementara itu mengenai rencana pembangunan kilang bekerja sama dengan Kuwait dan Saudi Aramco, menurut Edy, masih dapat terlaksana kalau pihak investor dapat mengubah item-item insentif yang dimintanya.

"Kuwait minta macam-macam. Ada 10 item. Itu yang dalam pandangan teman-teman Kementerian Keuangan agak memberatkan," katanya.

Agar pembangunan kilang dengan investor tetap terwujud, Pertamina diminta melakukan semacam tender dengan menawarkan insentif-insentif tertentu kepada investor.

Pembangunan kilang sangat penting untuk meningkatkan ketahanan energi nasional. Indonesia berkeinginan memiliki kilang baru sejak 1998. Namun hingga kini, tidak juga terwujud karena biaya yang dibutuhkan cukup besar, sementara marjinnya kecil.

Untuk kawasan Asia Pasifik, kilang terakhir kali dibangun tahun 1998. Khusus Indonesia, kilang yang usianya paling muda dan dapat memberikan keuntungan adalah Balongan yang dibangun tahun 1994. Sementara kilang-kilang  lainnya, keuntungannya sangat kecil karena telah berumur tua lantaran dibangun tahun 70-an. (TW)

[Copyright by Ditjen Migas]

EMPAT PROGRAM PRIORITAS MIGAS 2013

Ada banyak program migas di Indonesia, tetapi untuk yang 4 ini, diprioritaskan oleh pemerintah. Ada 4 program prioritas migas di Indonesia untuk tahun 2013 ini:

1.       peningkatan produksi migas.

2.       konversi BBM ke bahan bakar gas.

3.       pengendalian penggunaan BBM bersubsidi.

4.       insentif eksplorasi migas.

Kali ini kita fokus pada prioritas pertama yaitu peningkatan produksi migas. bagaimana caranya pemerintah mau meningkatkan produksi migas? Salah satu caranya adalah melalui EOR (Enhanced Oil Recovery). Juga melalui percepatan rencana pengembangan lapangan. Nah, apa itu EOR? Ini adalah proses pencarian minyak yg lebih canggih. Dengan EOR, bisa diangkat 30-60% minyak dibanding cara biasa yg 20-50%. Proses EOR membuat harga minyak yg diangkat naik beberapa dolar per ton. tapi harga ini bisa dihitung dan pada akhirnya tetap meningkatkan efisiensi, ujung2nya, ya produksi migas kita bisa meningkat , bahkan di sumur2 tua. dengan naiknya produksi migas, maka APBN kita akan tetap sehat. Semoga!

TOTAL E&P INDONESIE WEST PAPUA MULAI PENGEBORAN SUMUR ANGGREK HITAM-IX

18 Juni 2013

Jakarta, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS) Total E&P Indonesie West Papua berencana akan melakukan pengeboran satu sumur eksplorasi Anggrek Hitam-IX di Wilayah Kerja Southwest Bird’s Head, Papua Barat, pada minggu ke empat Juni, 2013.

“Sebuah rig pengeboran jenis swamp barge ‘Maera’ telah dikirim dari Kalimantan Timur pada 5 Juni 2013 lalu, dan direncanakan tiba pada 17 juni 2013 di Tanjung Tanjung Suabor, Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat,” ujar Avep Disasmita, District Manager Total E&P Indonesia West Papua, melalui siaran pers, Rabu (12/6).

Avep menambahkan, operasi pengeboran diperkirakan akan berlangsung selama dua setengah bulan.

Sesuai adat masyarakat setempat, untuk menyambut kedatangan rig Maera akan diadakan upacara adat pada 17 Juni 2013 yang melibatkan sekitar 200 warga lokal dari dua suku utama pemegang hak ulayat di lokasi tersebut.

Sejumlah perusahaan lokal dan nasional yang terlibat dalam kegiatan persiapan eksplorasi telah mempekerjakan penduduk setempat. PT Modern, sebuah perusahaan kontraktor lokal di Papua Barat, mempekerjakan 120 penduduk setempat ketika membersihkan lahan untuk lokasi pengeboran. PT Onasis, perusahaan kontraktor lainnya, juga mempekerjakan 36 penduduk setempat. Termasuk PT Apexindo, yang mengoperasikan rig Maera dan melaksanakan operasi pengeboran mempekerjakan 16 penduduk setempat. Secara keseluruhan dalam kegiatan persiapan eksplorasi ini Total mencapai 124.500 jam kerja, dan 150 hari kerja tanpa ada kehilangan waktu karena kecelakaan selama tahap persiapan lokasi.

Lindungi Aset Negara, SKK Migas Klaim Perjuangkan Nasionalisme

Mon, 4 Mar 2013, 13:17 WIB  

Konsorsium yang terdiri dari perusahaan asuransi nasional terbaik di Indonesia ini dibentuk untuk menjawab kebutuhan akan transfer risiko operasional maupun non-operasional kegiatan hulu migas. Angga Bratadharma

Jakarta–Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) serta industri hulu migas mengaku telah memperjuangkan nasionalisme yang memadai dan tidak pro kepada asing. SKK Migas membuktikan dengan digunakannya konsorsium asuransi yang kesemuanya beranggotakan perusahaan asuransi nasional untuk mengcover seluruh aset negara yang berkaitan dengan SKK Migas.

Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini mengatakan, dibentuknya Konsorsium Asuransi Aset Industri dan Sumur SKK Migas-KKKS/JOB/TAC dan digunakan untuk melindungi aset negara terkait SKK Migas merupakan bukti bahwa SKK Migas terus memperjuangkan rasa nasionalisme, dan juga mendukung perkembangan industri asuransi di Indonesia.

“SKK Migas telah membuka kesempatan seluas-luasnya kepada industri asuransi melalui konsorsium nasional yang melindungi aset negara. SKK Migas sudah 100% telah menggunakan asuransi nasional. Dan, ini adalah sebagai bukti bahwa keberpihakan industri migas kepada perkembangan nasional”, ujar Rubi, di Jakarta, Senin, 4 Maret 2013.

Rudi mengatakan, konsorsium yang terdiri dari perusahaan-perusahaan asuransi nasional terbaik di Indonesia ini dibentuk untuk menjawab kebutuhan akan transfer risiko operasional maupun non-operasional kegiatan hulu migas sekaligus untuk memberdayakan perusahaan-perusahaan asuransi nasional di dalam negeri.

Dijelaskan Rudi, meningkatnya keterlibatan perusahaan asuransi nasional juga diikuti dengan peningkatan kinerja dalam pengelolaam asuransi di industri hulu migas. Hal itu dibuktikan dengan rata-rata peningkatan nilai pertanggungan dari aset yang diasuransikan sejak tahun 2003 sampai dengan 2012 adalah sebesar 11% per tahun.

“Pada 2003 nilai pertanggungannya adalah sebesar USD15,14 miliar, sementara pada tahun 2012 nilai pertanggungan ini sudah mencapai sekitar USD31,86 miliar”, pungkas Rudi. (*)


Kris Energy Mulai Eksplorasi Blok Kutai
1 Maret 2013

Samarinda – Kris Energy mulai melakukan kegiatan eksplorasi di blok Kutai, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur (Kaltim). Bersama SKK Migas, Kris Energy melakukan sosialisasi kegiatan pengeboran sumur lepas pantai, Tayum 1 di kantor Dinas Pertambangan dan Energi, Kaltim, Kamis (28/2). Sumur Tayum 1 terletak sekitar 60 kilometer dari pulau Mangkok, pulau terdekat yang berada di sekitar Delta Mahakam.

“Pengeboran direncanakan mulai tajak pertengahan April mendatang,” kata General Manager Kris Energy, Basuki Kusmuparto.

Pihaknya berharap dukungan dari pemerintah daerah untuk kelancaran pelaksanaan pengeboran. “Jika nantinya ditemukan cadangan yang ekonomis, diharapkan dapat meningkatan produksi migas Nasional,” katanya.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi, Kaltim, Amrullah, menjelaskan, pihaknya mendukung penuh kegiatan operasi migas di daerahnya. Pemerintah daerah berharap kegiatan eksplorasi berhasil dan dilanjutkan ke tahap rencana pengembangan lapangan (plan of development/POD). “Kami tertarik mendapatkan hak partisipasi (participating interest),” katanya.

Di sisi lain, pemerintah daerah meminta Kris Energi menjadikan masyarakat, khususnya nelayan sebagai mitra.

Kepala Urusan Humas dan Kelembagaan Perwakilan SKK Migas Wilayah Kalimantan-Sulawesi, Yanin Kholison mengatakan, dengan sosialisasi ini diharapkan dapat terjalin komunikasi dan koordinasi yang baik dengan instansi-instansi terkait guna mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan pemboran tersebut. (DAN)

SKK Migas Tekan Pencurian Minyak

oleh Pebrianto Eko Wicaksono
Posted: 01/03/2013 09:24

SKK Migas Tekan Pencurian Minyak
Liputan6.com, Jakarta : Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) beserta kontraktor kontrak kerja sama, dan Kepolisian RI (Polri) berkomitmen menekan gangguan keamanan di sektor hulu migas sepanjang 2013.

Berdasarkan data SKK Migas, gangguan keamanan pada 2012 sebanyak 1.389 kejadian. Jumlah ini turun dibanding tahun 2011 sebanyak 1.633 kasus. Gangguan yang terjadi antara lain, unjuk rasa, ancaman dan sabotase, penghentian kegiatan operasi, serta pencurian peralatan migas.

“Gangguan keamanan tersebut memengaruhi produksi migas,” kata Kepala Bagian Humas, SKK Migas, Elan Biantoro seperti yang dikutip Liputan6.com pada website resmi SKK Migas di Jakarta, Jumat (1/3/2013).

Elan mencontohkan, pencurian minyak mentah PT Pertamina EP yang terjadi di jalur pipa Tempino dan Plaju, serta jalur pipa Prabumulih-Plaju. Sekitar 6.000 barel minyak dicuri dengan ilegal tapping sepanjang tahun lalu.

“Lebih dari 50% gangguan keamanan memang terjadi di Sumatera bagian selatan,” ungkap Elan

Dengan alasan tersebut, pihaknya melakukan berbagai upaya untuk meminimalisir kejadian, khususnya pencurian minyak ilegal. Contohnya, meningkatkan sistem pengamanan internal seperti penambahan personil, meningkatkan frekuensi patroli dan penambahan infrastruktur. Penyuluhan dan sosialisasi terpadu juga diintensifkan.

“Kami juga menurunkan posisi pipa menjadi 1,5 meter di bawah tanah agar tidak mudah dilakukan ilegal tapping,” jelas Elan.

SKK Migas berharap bantuan pengamanan yang lebih intensif dari kepolisian agar gangguan keamanan dapat ditekan, sehingga mengurangi terjadinya kerugian. Perlu tindakan tegas dan terukur melalui proses hukum terhadap pelaku. (Pew/Ndw)

Other Post :

                         - Berita MIGAS INDONESIA NOMOR 5 DUNIA DALAM PORSI BAGI HASIL MIGAS UNTUK NEGARA

                   -  Berita MIGAS Total Keberatan Aturan BI terkait DHE Migas

                   -  Petronas Kalahkan Pertamina Dalam Penemuan Cadangan Migas

                   Peran Perbankan Di Industri Hulu Migas Meningkat
                   - Pertamina Akan Akuisisi Blok Migas di Irak

                   - ESDM Minta Nasihat Mantan Pejabat-pejabat Pertamina Soal Pengelolaan Migas

                   - NOC Belum Siap Eksplorasi Blok Migas

                   - SKK Migas Inginkan Pengelola Blok Mahakam Tingkatkan Cadangan Gas

                   - SKK Migas Sarankan Pengelola Blok Mahakam Kolaborasi

                   - DPR Minta Blok Mahakam Dikelola Bersama

                   - Sektor Migas Sumbang Pendapatan Terbesar untuk Kas Negara

                   - SKK Migas Siapkan Aturan Penggunaan Teknologi Lanjut

                   - Tahun Ini, SKK Migas Tambah Produksi Minyak 121.691 Barel per Hari

                   Page ( 2  3  4  5  6  7  8  9 ) Lowongan Kerja Migas

Next    



Subpages (25): View All
Comments